me

 Perjalanan Hidup dApsrtophile



Perkenalkan, nama saya M. Daffa Prasetyo. Saya lahir di Bekasi pada 17 Januari 2001. Saya berasal dari keluarga sederhana. Ayah saya berasal dari Gunungkidul, Yogyakarta, sedangkan ibu saya berasal dari Bekasi. Saya juga memiliki seorang kakak perempuan yang lebih tua 5 tahun dari saya.


Perjalanan hidup saya sejak kecil penuh warna dan pelajaran berharga.



Masa Kecil di Bekasi



Saya memulai pendidikan di SDN Duren Jaya 8 Bekasi pada usia 5 tahun. Saat itu saya sudah bisa membaca dan menulis sehingga bisa langsung masuk SD tanpa melalui TK, hanya sempat mengikuti playgroup selama sekitar 3 bulan.


Ketika kelas 3 SD, saya berpindah sekolah ke SDN Duren Jaya 13 Bekasi.


Masa kecil saya sangat menyenangkan. Setiap akhir pekan, saya dan keluarga sering menghabiskan waktu bersama. Kadang kami pergi ke mall untuk bermain di Timezone atau piknik ke suatu tempat. Saat itu kehidupan terasa sangat hangat dan penuh kebahagiaan.


Namun waktu berjalan dan keluarga kami mulai menghadapi ujian hidup.



Ujian Kehidupan Keluarga



Ayah saya tiba-tiba terkena PHK dari pekerjaannya karena ulah oknum yang tidak bertanggung jawab. Saat itu saya masih kecil sehingga mungkin belum bisa merasakan betapa beratnya beban pikiran ayah saya.


Tetapi ayah saya adalah sosok yang sangat kuat dan tidak mudah menyerah. Beliau berhasil mendapatkan pekerjaan lagi.


Tidak lama setelah itu, ayah saya didiagnosis menderita diabetes yang mengharuskannya sering melakukan pemeriksaan bahkan beberapa kali harus dirawat di rumah sakit.


Karena saya masuk sekolah terlalu cepat dan kondisi finansial keluarga belum stabil, saya sempat berhenti sekolah selama satu tahun.


Setelah itu, orang tua saya memutuskan untuk menjual rumah kami di Bekasi dan pindah ke Gunungkidul, Yogyakarta.



Beradaptasi di Gunungkidul



Saya melanjutkan sekolah kelas 4 SD di SDN Ngunut Gunungkidul.


Awalnya tidak mudah bagi saya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Saya harus belajar menggunakan bahasa Jawa dan menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda dari kehidupan di Bekasi.


Pergaulan di Bekasi dan Gunungkidul terasa sangat berbeda. Namun perlahan saya berhasil menyesuaikan diri.



Belajar Mandiri Sejak SMP



Sejak SMP, kedua orang tua saya harus bekerja di kota besar sehingga saya lebih sering tinggal sendiri.


Sejak kelas 2 SMP saya sudah terbiasa melakukan banyak hal sendiri seperti:


  • mencuci pakaian
  • mencuci piring
  • memasak nasi dan lauk untuk makan



Pengalaman tersebut membuat saya belajar mandiri sejak usia muda.



Masa Sulit Saat Ayah Sakit



Ketika saya kelas 3 SMP, kondisi kesehatan ayah saya semakin memburuk sehingga beliau harus kembali ke Gunungkidul untuk mendapatkan perawatan.


Pada masa itu saya dan kakak saya membantu merawat ayah di rumah sakit. Kami melakukan banyak hal seperti:


  • membuang kantong urin
  • membantu mengurus administrasi rumah sakit



Sementara ibu saya tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.


Setelah pulih, ayah saya kembali bekerja di Tangerang dengan semangat yang luar biasa.



Perjuangan Ibu saya


Di balik semua perjalanan hidup keluarga kami, ada satu sosok yang sangat kuat dan luar biasa, yaitu ibu saya.


Saat ayah saya sakit diabetes dan kondisinya semakin memburuk, kehidupan keluarga kami tidaklah mudah. Pengobatan ayah membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sementara kondisi ekonomi keluarga sedang tidak stabil.


Pada masa itu, ibu saya menjadi tulang punggung keluarga. Beliau bekerja keras membanting tulang demi mencukupi kebutuhan keluarga kami. Meski harus menghadapi kelelahan dan tekanan hidup, ibu saya tidak pernah menyerah.


Beliau tetap berusaha kuat demi saya, kakak saya, dan ayah saya.


Sebagai anak, saya menyaksikan sendiri bagaimana ibu saya berjuang. Kadang saya merasa sedih melihat betapa berat tanggung jawab yang harus beliau pikul, tetapi ibu saya selalu menunjukkan ketegaran.


Karena itulah saya selalu menganggap ibu saya adalah sosok perempuan yang sangat hebat.


Perjuangan ibu saya menjadi salah satu alasan terbesar yang membuat saya ingin bekerja keras dan meraih kesuksesan. Saya ingin suatu hari nanti bisa membahagiakan ibu saya dan membalas semua pengorbanan yang telah beliau lakukan untuk keluarga kami.


Perjalanan Pendidikan SMK



Setelah lulus SMP, saya sempat menyusul orang tua ke Tangerang. Namun saya memutuskan untuk kembali ke Gunungkidul untuk melanjutkan sekolah.


Saya pulang dari Tangerang ke Gunungkidul sendirian menggunakan bus.


Saya kemudian mendaftar di SMKN 3 Wonosari.


Selama sekolah, saya sempat mengikuti program pembinaan bagi anak jalanan dan keluarga kurang mampu selama satu bulan. Dari program tersebut saya mendapatkan sedikit uang yang saya gunakan untuk menjahit seragam SMK, sehingga tidak membebani keuangan keluarga.


Selama 3 tahun sekolah, saya juga mendapatkan bantuan dana BOS yang membantu membayar biaya pendidikan saya. Hal itu membuat saya sangat bersyukur karena dapat meringankan beban orang tua.



Kenangan Terakhir Bersama Ayah



Saat kelas 2 SMK, kondisi ayah saya kembali memburuk.


Beliau pulang ke Gunungkidul untuk menjalani perawatan serius. Pada masa itu saya menghabiskan banyak waktu bersama ayah. Kami sering:


  • mengobrol
  • bercanda
  • memasak bersama



Momen tersebut sangat berharga bagi saya.


Saya memiliki mimpi besar saat itu: ingin membawa ayah berobat ke luar negeri agar bisa sembuh.


Namun takdir berkata lain.


Ketika saya kelas 3 SMK dan sebentar lagi akan lulus, ayah saya meninggal dunia. Saat itu saya merasakan kehampaan yang sangat dalam. Saya sangat sedih tetapi bahkan sulit mengeluarkan air mata.


Ayah saya menghembuskan napas terakhir di pangkuan saya.


Peristiwa itu menjadi salah satu pengalaman paling berat dalam hidup saya.



Memulai Dunia Kerja



Setelah ujian nasional selesai dan hasil kelulusan keluar, saya memutuskan untuk langsung bekerja.


Saya mulai bekerja freelance di agen JNE.


Ketika teman-teman saya merayakan kelulusan dengan pawai dan mencoret seragam, saya memilih tetap bekerja karena saya memiliki tujuan yang lebih besar: ingin menjadi orang sukses dan membahagiakan orang yang saya sayangi.



Pengalaman Kerja Berat di Jogja



Setelah itu saya bekerja di Dakota Cargo Yogyakarta.


Di sana saya bekerja sebagai tim bongkar muat. Dalam satu hari kami bisa membongkar hingga 7 ton barang atau lebih dalam satu tim yang berisi 4 orang.


Gajinya memang tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri.


Saya pernah bekerja hingga 15 jam dalam sehari. Saat itu gaji saya mengikuti UMR Yogyakarta tahun 2020.


Saya bekerja di sana selama 1 tahun 6 bulan.



Mencari Pengalaman di Berbagai Kota



Setelah itu saya memutuskan pergi ke Bekasi untuk bertemu ibu saya.


Saya juga sempat tinggal di rumah saudara kembar ibu saya. Selama di sana saya mencoba berbagai pekerjaan seperti:


  • bekerja di warung bakso
  • bekerja di tempat pengamplasan CVT motor
  • bekerja di pasar sebagai agen telur



Saya juga sempat mencoba mencari pekerjaan di Jakarta dan tinggal di rumah om saya.


Di Jakarta saya sempat bekerja di gudang AnterAja, namun hanya selama 2 hari karena saat itu sedang masa pandemi COVID-19 dan saya khawatir membawa risiko bagi keluarga om saya yang memiliki anak kecil.



Bekerja di Apartemen dan Hotel



Kemudian seorang teman membantu saya mendapatkan pekerjaan di apartemen selama 3 bulan dengan sistem kontrak.


Setelah itu saya bekerja freelance di hotel melalui relasi om saya.


Awalnya saya bekerja sebagai steward, namun kemudian saya dipercaya untuk:


  • memasak nasi dalam jumlah besar
  • membantu persiapan acara
  • melakukan closing setelah event hotel selesai



Pengalaman tersebut memberi saya banyak pelajaran tentang tanggung jawab dan kepercayaan dalam pekerjaan.



Perjalanan Belum Selesai



Setelah tahun 2022, perjalanan hidup saya masih terus berlanjut dengan berbagai cerita dan pengalaman yang belum semuanya bisa saya ceritakan.


Namun satu hal yang tidak pernah berubah sejak kecil adalah cita-cita saya untuk menjadi orang sukses dan membahagiakan orang-orang yang saya sayangi.


Perjalanan ini masih panjang, dan saya percaya setiap langkah yang saya jalani adalah bagian dari proses menuju masa depan yang lebih baik.


Terima kasih sudah membaca cerita perjalanan hidup saya.


See you di cerita berikutnya. 😄

Komentar